Kita semua datang kedunia ini dari lubang yang sama dan akan kembali ke lubang yang sama pula. So, bisa dibilang hidup ini memang cuma gali lubang tutup lubang. Kalau hari ini kita menggali lubang, bukan mustahil besok pagi justru kita yang akan dimasukkan kedalam lubang. Lubang itulah koma kehidupan , bukan titik. Sebab, masuk lubang kubur bukan akhir kehidupan. Sebaliknya, lubang kubur menjadi babak baru bagi kehidupan selanjutnya. Kehidupan alam ruh.
Kata kyai, kehidupan alam ruh inilah yang kelak abadi. Celakanya kehidupan yang abadi nanti cuma ada dua kemungkinan: kebahagian abadi atau siksa abadi. Jadi bersyukurlah kalau situ masih ingat sama lubang dubur, ups sorry, maksudnya lubang kubur. Sebab dengan mengingat lubang kubur, dengan mengingat bahwa suatu hari nanti kita terbaring kesepian di dalamnya otomatis kita akan menjaga sikap.
Cukuplah kematian sebagai penasihat, gitu kata Nabi. Artinya, orang-orang yang kerap mengingat mati pasti gak akan bersikap ambisius, mustahil gila jabatan, mustahil pula bisa menyakiti orang lain. Sebab mereka terlalu sibuk mengurus bekal mereka sendiri buat di lubang kubur nanti. Mereka inilah yang kelak akan duduk manis disebuah taman sambil meneguk segelas susu dari sungai-sungai yang mengalir didalamnya.
Begitupun mereka yang gak pernah mengingat lubang, mereka juga akan masuk ke dalam taman. Tapi bukan taman nan indah, melainkan taman yang terbakar dan mereka semua dipaksa menenggak segelas air yang bergolak panas.
Tau gak sih, panasnya api abadi nanti itu gila-gilaan, lho! Bisa ratusan kali lebih panas dari apapun yang paling panas dibumi ini. Jadi kalau situ mau bikin kopi di alam nanti, airnya gak perlu direbus diatas apinya, sebab hawanya aja udah cukup bikin mendidih!
So, sebelum masuk lubang, mari sama-sama kita mengingat lubang. Oya, ngomongin soal lubang, Sayyidinna Ali. Ra pernah berkata yang kalau gak salah
Intinya seperti ini : Ada 3 perpisahan yang akan kita hadapi dilubang kubur nanti..
“Pertama adalah perpisahan dengan keluarga dan orang-orang yang kita sayangi. Kepada mereka yang akan berkata, “Selama hidupku aku telah mengurus kalian, mencintai kalian seperti diriku sendiri, kini apa yang bisa kalian berikan untukku?”
Mereka cuma bisa menjawab, “Kami hanya bisa mengantarmu sampai tepi lubang kubur.”
Setelah itu kita akan berpisah dengan harta dan benda yang kita miliki. Kepada mereka kita akan berkata,
“Selama hidupku aku telah membanting tulang dan menguras keringat untuk mencari dan mengumpulkanmu. Karena itu kalian telah membuatku melupakan apa yang seharusnya aku ingat. Kini apa yang bisa kalian berikan untukku?”
Mereka pun menjawab, “Kami hanya bisa memberikan kain kafan untukmu.”
Selanjutnya, perpisahan terakhir adalah dengan amal-amal kebaikan yang pernah kita lakukan selama hidup. Kepada mereka kita juga bertanya, “Apa yang bisa kalian berikan untukku?”
Maka amal-amal kebaikan itu akan menjawab, “Kami akan menemanimu dalam kubur ini dan akan menjadi dinding yang memisahkan engkau dengan neraka.”
Nah, sudahkah kamu memiliki ‘teman’ yang akan mendapingimu dilubang kubur nanti? Jangan sampai terlambat mencarinya, lho. Sebab, begitu kata kyai, kalau tubuh sudah dibalut kafan, kalau tubuh sudah tertimbun tanah, dan kalau nisan telah ditancapkan, maka gak ada lagi gunanya menyesal!. Pintu tobat dan kata maaf dari Tuhan akan ditutup bersama tertutupnya liang kubur. Nah, sebelum terlambat, yuks sama-sama kita berdoa. Sama-sama memelas minta maaf-Nya dan sama-sama mengingat-Nya lagi.
Oya, kalau berdoa jangan bilang, “Oh Tuhan, bukakanlah pintu maaf-Mu…” Sebab pintu maaf Tuhan gak pernah ditutup. Pintu maaf-Nya selalu terbuka bagi siapapun yang berniat memasukinya. Jadi gak perlu minta dibukakan sebab pintu itu memang selalu terbuka. Silahkan masuk tanpa perlu mengetuk , gitu..”


0 Comments to "Dari Lubang Menuju Lubang"